Page 594 - ALKITAB
P. 594

Segala sesuatu sia-sia
       (Pengkhotbah 1:1-11)
       1


       1:1     Inilah perkataan Pengkhotbah, anak Daud, raja di Yerusalem.
       1:2     Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.
       1:3     Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari?
       1:4     Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang, tetapi bumi tetap ada.
       1:5     Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali.
       1:6     Angin bertiup ke selatan, lalu berputar ke utara, terus-menerus ia berputar, dan dalam putarannya angin itu kembali.
       1:7     Semua sungai mengalir ke laut, tetapi laut tidak juga menjadi penuh; ke mana sungai mengalir, ke situ sungai
               mengalir selalu.
       1:8     Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas
               mendengar.
       1:9     Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah
               matahari.
       1:10    Adakah sesuatu yang dapat dikatakan: "Lihatlah, ini baru!"? Tetapi itu sudah ada dulu, lama sebelum kita ada.
       1:11    Kenang-kenangan dari masa lampau tidak ada, dan dari masa depan yang masih akan datangpun tidak akan ada
               kenang-kenangan pada mereka yang hidup sesudahnya.

       Pengejaran hikmat adalah sia-sia
       (Pengkhotbah 1:12-18)

       1:12    Aku, Pengkhotbah, adalah raja atas Israel di Yerusalem.
       1:13    Aku membulatkan hatiku untuk memeriksa dan menyelidiki dengan hikmat segala yang terjadi di bawah langit. Itu
               pekerjaan yang menyusahkan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan diri.
       1:14    Aku telah melihat segala perbuatan yang dilakukan orang di bawah matahari, tetapi lihatlah, segala sesuatu adalah
               kesia-siaan dan usaha menjaring angin.
       1:15    Yang bongkok tak dapat diluruskan, dan yang tidak ada tak dapat dihitung.
       1:16    Aku berkata dalam hati: "Lihatlah, aku telah memperbesar dan menambah hikmat lebih dari pada semua orang yang
               memerintah atas Yerusalem sebelum aku, dan hatiku telah memperoleh banyak hikmat dan pengetahuan."
       1:17    Aku telah membulatkan hatiku untuk memahami hikmat dan pengetahuan, kebodohan dan kebebalan. Tetapi aku
               menyadari bahwa hal inipun adalah usaha menjaring angin,
       1:18    karena di dalam banyak hikmat ada banyak susah hati, dan siapa memperbanyak pengetahuan, memperbanyak
               kesedihan.

       Hikmat dan kebodohan adalah hal yang sia-sia
       (Pengkhotbah 2:1-26)


       2
       2:1     Aku berkata dalam hati: "Mari, aku hendak menguji kegirangan! Nikmatilah kesenangan! Tetapi lihat, juga itupun sia-
               sia."
       2:2     Tentang tertawa aku berkata: "Itu bodoh!", dan mengenai kegirangan: "Apa gunanya?"
       2:3     Aku menyelidiki diriku dengan menyegarkan tubuhku dengan anggur, --sedang akal budiku tetap memimpin dengan
               hikmat--,dan dengan memperoleh kebebalan, sampai aku mengetahui apa yang baik bagi anak-anak manusia untuk
               dilakukan di bawah langit selama hidup mereka yang pendek itu.
       2:4     Aku melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, mendirikan bagiku rumah-rumah, menanami bagiku kebun-kebun
               anggur;
       2:5     aku mengusahakan bagiku kebun-kebun dan taman-taman, dan menanaminya dengan rupa-rupa pohon buah-
               buahan;
       2:6     aku menggali bagiku kolam-kolam untuk mengairi dari situ tanaman pohon-pohon muda.
       2:7     Aku membeli budak-budak laki-laki dan perempuan, dan ada budak-budak yang lahir di rumahku; aku mempunyai
               juga banyak sapi dan kambing domba melebihi siapapun yang pernah hidup di Yerusalem sebelum aku.
       2:8     Aku mengumpulkan bagiku juga perak dan emas, harta benda raja-raja dan daerah-daerah. Aku mencari bagiku
               biduan-biduan dan biduanita-biduanita, dan yang menyenangkan anak-anak manusia, yakni banyak gundik.
       2:9     Dengan demikian aku menjadi besar, bahkan lebih besar dari pada siapapun yang pernah hidup di Yerusalem
               sebelum aku; dalam pada itu hikmatku tinggal tetap padaku.
       2:10    Aku tidak merintangi mataku dari apapun yang dikehendakinya, dan aku tidak menahan hatiku dari sukacita apapun,
               sebab hatiku bersukacita karena segala jerih payahku. Itulah buah segala jerih payahku.
       2:11    Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu
               dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada
               keuntungan di bawah matahari.
       2:12    Lalu aku berpaling untuk meninjau hikmat, kebodohan dan kebebalan, sebab apa yang dapat dilakukan orang yang
               menggantikan raja? Hanya apa yang telah dilakukan orang.
   589   590   591   592   593   594   595   596   597   598   599